Sejak anaknya meninggal dunia, Abah Uhi merawat cucunya seorang diri. Kini di usia 96 tahun dan kondisi kesehatan yang semakin menurun, mereka berjuang bertahan hidup dengan berjualan sayur di malam hari.

Saat banyak orang seusianya menikmati masa tua bersama keluarga, Abah Uhi justru masih harus berjuang mencari nafkah.
Usianya sudah mencapai 96 tahun.
Namun setiap malam, Abah Uhi berangkat membawa dagangan sayur kol untuk dijual di emperan toko yang telah tutup.
Dari pukul 6 sore hingga 6 pagi, Abah duduk menunggu pembeli datang.
Ditemani udara malam yang dingin dan tubuh yang semakin renta, Abah bertahan demi satu alasan sederhana:
Agar dapur tetap mengepul dan cucunya bisa makan.

Abah bukanlah pemilik modal besar.
Sayuran yang dijualnya hanyalah titipan dari orang lain.
Keuntungan yang didapat pun sangat kecil, hanya sekitar Rp500 hingga Rp2.000 per kilogram.
Bahkan jika sayur tidak laku dan membusuk, Abah harus menanggung kerugiannya sendiri.
Meski berat, Abah tetap menjalaninya selama bertahun-tahun.
Karena sejak anaknya meninggal dunia, Abah menjadi satu-satunya tempat bergantung bagi cucu perempuan tercintanya, Silka (17 tahun).
Mereka hidup berdua.
Saling menjaga.
Saling menguatkan.
Namun ujian kembali datang.
Beberapa bulan terakhir, Abah Uhi mengalami sakit lambung kronis. Kondisi fisiknya semakin melemah dan sering jatuh sakit.
Kini Abah lebih banyak terbaring di rumah.
Ia tak lagi kuat berjualan semalaman seperti dulu.
Akhirnya Silka harus menggantikan Abah berjualan di malam hari.
Padahal selama ini Abah selalu melarang Silka ikut berjualan karena khawatir terhadap keselamatannya sebagai remaja perempuan.
Namun keadaan memaksa mereka.
Jika tidak ada yang berjualan, tidak ada uang untuk makan.
Tidak ada biaya untuk membeli obat.
Tidak ada penghasilan untuk bertahan hidup.
Yang membuat hati Abah semakin sedih adalah ketidakmampuannya menjaga dan mencukupi kebutuhan Silka seperti dahulu.
Hari ini, Abah Uhi dan Silka membutuhkan uluran tangan kita.
Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk:
✅ Kebutuhan hidup sehari-hari
✅ Biaya pengobatan Abah Uhi
✅ Modal usaha agar Silka tidak harus terus berjualan hingga larut malam
✅ Kebutuhan mendesak lainnya bagi Abah dan Silka
Teman Berbagi, tidak banyak yang diinginkan Abah Uhi.
Ia hanya ingin bisa melihat cucunya hidup lebih baik tanpa harus berjuang sendirian di tengah malam.
Mari hadirkan harapan untuk Abah Uhi dan Silka.
Karena bantuan sekecil apa pun dapat menjadi kekuatan besar bagi mereka untuk bertahan.
Klik DONASI SEKARANG dan jadilah bagian dari kebaikan untuk Abah Uhi dan Silka.