Di Usia Senja, Bu Euis Berjuang Menghidupi Anak yang Sakit Jiwa
Sosial Kemanusiaan

Di Usia Senja, Bu Euis Berjuang Menghidupi Anak yang Sakit Jiwa

Rp 0 terkumpul

dari target Rp 75.000.000

0 Donatur
43 hari lagi

Deskripsi Program

Di usia senjanya yang menginjak 72 tahun, raga renta Bu Euis Sumarni masih harus memikul beban hidup yang teramat berat. Sejak sang suami berpulang 10 tahun silam, ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan balon keliling. Penghasilannya yang hanya sekitar Rp20.000 setiap harinya harus dihemat mati-matian untuk sekadar makan dan merawat putra semata wayangnya, Asep (30 tahun), yang mengalami depresi dan gangguan jiwa berat akibat terlalu terpukul kehilangan ayahnya.Kondisi Asep menuntut pengobatan dan kontrol rutin ke puskesmas setiap bulan. Pernah suatu hari Asep berucap pilu, "Kalau Ibu meninggal, Asep mau ikut, karena tidak ada lagi yang mau merawat Asep." Hati ibu mana yang tak hancur mendengarnya? Penderitaan Bu Euis kian bertambah karena dagangannya kini makin sepi, membuatnya menunggak biaya sewa petak kontrakan. Sambil berderai air mata, Bu Euis dihantui ketakutan luar biasa, membayangkan di mana ia dan anak kesayangannya harus berteduh jika esok hari mereka diusir ke jalanan.Orang Baik, Bu Euis tidak seharusnya berjuang sendirian menahan perih di sisa umurnya. Mari bersama-sama kita ringankan beban pundak Bu Euis agar ia bisa terus merawat Asep dan tak lagi menangis memikirkan biaya kontrakan serta pengobatan. Sedikit sisihan rezeki dari Anda adalah napas dan harapan baru bagi kelangsungan hidup mereka. Yuk, salurkan donasi terbaikmu sekarang dan pastikan Bu Euis serta Asep tetap memiliki atap untuk berlindung!

Di usia senjanya yang menginjak 72 tahun, raga renta Bu Euis Sumarni masih harus memikul beban hidup yang teramat berat. Sejak sang suami berpulang 10 tahun silam, ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan balon keliling.

Penghasilannya yang hanya sekitar Rp20.000 setiap harinya harus dihemat mati-matian untuk sekadar makan dan merawat putra semata wayangnya, Asep (30 tahun), yang mengalami depresi dan gangguan jiwa berat akibat terlalu terpukul kehilangan ayahnya.


Kondisi Asep menuntut pengobatan dan kontrol rutin ke puskesmas setiap bulan. Pernah suatu hari Asep berucap pilu, "Kalau Ibu meninggal, Asep mau ikut, karena tidak ada lagi yang mau merawat Asep." Hati ibu mana yang tak hancur mendengarnya? Penderitaan Bu Euis kian bertambah karena dagangannya kini makin sepi, membuatnya menunggak biaya sewa petak kontrakan. Sambil berderai air mata, Bu Euis dihantui ketakutan luar biasa, membayangkan di mana ia dan anak kesayangannya harus berteduh jika esok hari mereka diusir ke jalanan.

Orang Baik, Bu Euis tidak seharusnya berjuang sendirian menahan perih di sisa umurnya. Mari bersama-sama kita ringankan beban pundak Bu Euis agar ia bisa terus merawat Asep dan tak lagi menangis memikirkan biaya kontrakan serta pengobatan. Sedikit sisihan rezeki dari Anda adalah napas dan harapan baru bagi kelangsungan hidup mereka. Yuk, salurkan donasi terbaikmu sekarang dan pastikan Bu Euis serta Asep tetap memiliki atap untuk berlindung!