Di Usia Senja Mak Tete Banting Tulang Demi Suami Yang Buta
Sosial Kemanusiaan

Di Usia Senja Mak Tete Banting Tulang Demi Suami Yang Buta

Rp 0 terkumpul

dari target Rp 55.000.000

0 Donatur
75 hari lagi

Deskripsi Program

Banting tulang diusia senja mengerjakan tugas layaknya pria. menjadi tulang punggung karena suami sakit dan buta. bukti cinta sejati yang tak lekang oleh masa.Menikmati hari tua adalah hal yang layaknya dirasakan setelah lelah berjuang dimasa muda, namun tidak dengan Mak Tete (68 Tahun), diusia senjanya mak masih harus melangkahkan kaki dan memaksa tubuh rentanya walau dengan upah yang didapat tak seberapa, tak pernah berani menyerah karena sang suami menunggunya di rumah, bukan karena malas namun karena terbaring lemah, sakit dan tak lagi mampu melihat dunia.Tak ada pilihan lain bagi Mak Tete selain menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilannya yang tidak menentu sering kali hanya cukup untuk membeli beras dan kebutuhan paling sederhana. Sementara itu, kondisi sang suami membutuhkan perhatian serta biaya yang tak mampu mereka penuhi. Di balik senyumnya, Mak Tete menyimpan lelah yang tak pernah ia keluhkan, karena baginya, melihat suaminya tetap bertahan hidup adalah alasan untuk terus kuat.Tinggal di rumah tua mereka, atap bocor ketika hujan hanya secuil keresahan mak ditengah ketakutan yang membayangi jika roboh. tapi mak berusaha tegar dan sabar karena saat ini keinginannya adalah yang paling sederhana, sang suami bisa bisa berobat dan bisa membangun MCK di rumahnya agar resiko abah terjatuh karena lokasi toilet yang jauh dan licin tak terjadi lagi.#orangbaik #kawandermawan, bersama kita bawa kembali secercah harapan di masa senja mereka. Mari buktikan bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Bersama, kita bisa menghadirkan senyum dan kehidupan yang lebih layak bagi Mak Tete dan suami tercintanya dengan cara berdonasi untuk mak Tete dan abah.

Banting tulang diusia senja mengerjakan tugas layaknya pria. menjadi tulang punggung karena suami sakit dan buta. bukti cinta sejati yang tak lekang oleh masa.



Menikmati hari tua adalah hal yang layaknya dirasakan setelah lelah berjuang dimasa muda, namun tidak dengan Mak Tete (68 Tahun), diusia senjanya mak masih harus melangkahkan kaki dan memaksa tubuh rentanya walau dengan upah yang didapat tak seberapa, tak pernah berani menyerah karena sang suami menunggunya di rumah, bukan karena malas namun karena terbaring lemah, sakit dan tak lagi mampu melihat dunia.

Tak ada pilihan lain bagi Mak Tete selain menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilannya yang tidak menentu sering kali hanya cukup untuk membeli beras dan kebutuhan paling sederhana. Sementara itu, kondisi sang suami membutuhkan perhatian serta biaya yang tak mampu mereka penuhi. Di balik senyumnya, Mak Tete menyimpan lelah yang tak pernah ia keluhkan, karena baginya, melihat suaminya tetap bertahan hidup adalah alasan untuk terus kuat.

Tinggal di rumah tua mereka, atap bocor ketika hujan hanya secuil keresahan mak ditengah ketakutan yang membayangi jika roboh. tapi mak berusaha tegar dan sabar karena saat ini keinginannya adalah yang paling sederhana, sang suami bisa bisa berobat dan bisa membangun MCK di rumahnya agar resiko abah terjatuh karena lokasi toilet yang jauh dan licin tak terjadi lagi.

#orangbaik #kawandermawan, bersama kita bawa kembali secercah harapan di masa senja mereka. Mari buktikan bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Bersama, kita bisa menghadirkan senyum dan kehidupan yang lebih layak bagi Mak Tete dan suami tercintanya dengan cara berdonasi untuk mak Tete dan abah.