Jualan Gorengan Sambil Menahan Sedih, Aji Ingin Punya Kaki Palsu Agar Ibunya Tak Lagi Khawatir
Pendidikan Sosial Lainnya

Jualan Gorengan Sambil Menahan Sedih, Aji Ingin Punya Kaki Palsu Agar Ibunya Tak Lagi Khawatir

Rp 275.000 terkumpul

dari target Rp 50.000.000

7 Donatur
0 hari lagi

Deskripsi Program

Di usia 17 tahun, saat banyak remaja seusianya sibuk sekolah, bermain bersama teman, atau mengejar cita-cita, Aji justru harus berjuang melawan kerasnya hidup. Dengan segala keterbatasannya, Aji tumbuh menjadi anak yang kuat dan penuh kasih sayang kepada ibunya.Aji tinggal berdua bersama sang ibu, Ibu Yeyen (52), yang sehari-hari bekerja membantu membuat siomay dengan upah Rp40.000 per hari. Namun pekerjaan itu pun tidak selalu ada.Dalam sebulan, Ibu Yeyen hanya bisa bekerja sekitar 10 hari karena kondisi kesehatannya yang terus menurun akibat penyakit kelenjar yang dideritanya. Sering kali, uang yang ada hanya cukup untuk makan seadanya. Untuk berobat pun mereka harus menahan diri karena tidak memiliki biaya.Namun di tengah keterbatasan itu, Ibu Yeyen tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.Yang selalu ada di pikirannya hanyalah Aji.Dengan mata berkaca-kaca, Ibu Yeyen berkata,“Keinginan saya cuma satu… ingin Aji punya kaki palsu supaya bisa hidup seperti orang lain…”Kalimat itu bukan sekadar harapan seorang ibu.Itu adalah rasa takut seorang ibu yang memikirkan masa depan anaknya jika suatu hari ia harus pergi lebih dulu meninggalkan Aji.Tak ingin terus bergantung pada ibunya, Aji memilih membantu mencari nafkah dengan caranya sendiri.Setiap pagi hingga sore, Aji berkeliling menjajakan gorengan dari kampung ke kampung. Dengan kedua tangannya, Aji berjuang mengumpulkan rupiah demi rupiah agar bisa membantu kebutuhan rumah dan mengurangi beban ibunya.Namun hasil yang didapat sangat kecil dan tidak menentu.Dalam sehari, Aji hanya memperoleh sekitar Rp30.000, itu pun jika dagangannya banyak terjual.Meski lelah dan penuh keterbatasan, Aji tidak pernah menyerah.Ia hanya ingin hidup mandiri…Ia hanya ingin membahagiakan ibunya…Dan diam-diam, Aji juga ingin memiliki kaki palsu agar bisa bergerak dan beraktivitas seperti remaja lainnya.Orang Baik, hari ini kita bisa menjadi harapan bagi Aji dan Ibu Yeyen.Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk: ✅ Pembuatan kaki palsu untuk Aji ✅ Pengobatan Ibu Yeyen ✅ Kebutuhan hidup sehari-hari ✅ Modal usaha kecil untuk keluarga AjiBayangkan jika Aji adalah anak kita sendiri…Haruskah ia terus berjuang sendirian di usia semuda itu?Yuk bantu wujudkan kaki palsu untuk Aji dan ringankan beban Ibu Yeyen.Sedikit bantuan dari kita bisa menjadi harapan besar bagi masa depan mereka.Klik tombol DONASI sekarang, bantu Aji melangkah lebih kuat untuk masa depannya.

Di usia 17 tahun, saat banyak remaja seusianya sibuk sekolah, bermain bersama teman, atau mengejar cita-cita, Aji justru harus berjuang melawan kerasnya hidup.

 


Dengan segala keterbatasannya, Aji tumbuh menjadi anak yang kuat dan penuh kasih sayang kepada ibunya.


Aji tinggal berdua bersama sang ibu, Ibu Yeyen (52), yang sehari-hari bekerja membantu membuat siomay dengan upah Rp40.000 per hari. Namun pekerjaan itu pun tidak selalu ada.


Dalam sebulan, Ibu Yeyen hanya bisa bekerja sekitar 10 hari karena kondisi kesehatannya yang terus menurun akibat penyakit kelenjar yang dideritanya.

 


Sering kali, uang yang ada hanya cukup untuk makan seadanya. Untuk berobat pun mereka harus menahan diri karena tidak memiliki biaya.

Namun di tengah keterbatasan itu, Ibu Yeyen tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.


Yang selalu ada di pikirannya hanyalah Aji.


Dengan mata berkaca-kaca, Ibu Yeyen berkata,

“Keinginan saya cuma satu… ingin Aji punya kaki palsu supaya bisa hidup seperti orang lain…”


Kalimat itu bukan sekadar harapan seorang ibu.


Itu adalah rasa takut seorang ibu yang memikirkan masa depan anaknya jika suatu hari ia harus pergi lebih dulu meninggalkan Aji.


Tak ingin terus bergantung pada ibunya, Aji memilih membantu mencari nafkah dengan caranya sendiri.


Setiap pagi hingga sore, Aji berkeliling menjajakan gorengan dari kampung ke kampung.

 


Dengan kedua tangannya, Aji berjuang mengumpulkan rupiah demi rupiah agar bisa membantu kebutuhan rumah dan mengurangi beban ibunya.


Namun hasil yang didapat sangat kecil dan tidak menentu.


Dalam sehari, Aji hanya memperoleh sekitar Rp30.000, itu pun jika dagangannya banyak terjual.



Meski lelah dan penuh keterbatasan, Aji tidak pernah menyerah.

Ia hanya ingin hidup mandiri…

Ia hanya ingin membahagiakan ibunya…

Dan diam-diam, Aji juga ingin memiliki kaki palsu agar bisa bergerak dan beraktivitas seperti remaja lainnya.


Orang Baik, hari ini kita bisa menjadi harapan bagi Aji dan Ibu Yeyen.

Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk:

✅ Pembuatan kaki palsu untuk Aji

✅ Pengobatan Ibu Yeyen

✅ Kebutuhan hidup sehari-hari

✅ Modal usaha kecil untuk keluarga Aji


Bayangkan jika Aji adalah anak kita sendiri…

Haruskah ia terus berjuang sendirian di usia semuda itu?


Yuk bantu wujudkan kaki palsu untuk Aji dan ringankan beban Ibu Yeyen.

Sedikit bantuan dari kita bisa menjadi harapan besar bagi masa depan mereka.


Klik tombol DONASI sekarang, bantu Aji melangkah lebih kuat untuk masa depannya.

List Donatur (7)

Gilang

3 minggu yang lalu

Rp 25.000

Hamba Allah

2 bulan yang lalu

Rp 100.000

Fika Hakim

2 bulan yang lalu

Rp 25.000

Hamba Allah

2 bulan yang lalu

Rp 25.000

Hamba Allah

2 bulan yang lalu

Rp 50.000