Mata Buta, Sebatang Kara, Bantu Bah Suhro Hidup Layak
Sosial Kemanusiaan

Mata Buta, Sebatang Kara, Bantu Bah Suhro Hidup Layak

Rp 0 terkumpul

dari target Rp 55.000.000

0 Donatur
75 hari lagi

Deskripsi Program

Badan renta, Hidup sebatangkara, kedua matanya pun buta, mencari makan hanya dari berjualan korek.5 tahun Lebih mata Bah Suhro (76 tahun) tak melihat terangnya cahaya matahari, gelapnya penglihatan dirasakan Abah ditengah kesendirian karena sang istri sudah lebih dahulu dipanggil yang Maha Kuasa dan tanpa dikaruniai seorangpun buah hati yang bisa menghibur abah dimasa muda dan menjaga abah dimasa tua.—”Abah nggak punya anak, istri abah sudah meninggal duluan”.Dimasa senjanya klini abah ditampung tinggal disebuah mushola, dengan berjualan korek dan kebutuhan sederhana lain demi menyambung hidup dengan mengasong disekitar mushola dan pengunjung warung.—”malu dikasih trerus, minimal abah ada usaha”.demi membalas budi baik abah bisa tinggal di tempat yang lebih layak, di mushola tempat abah tinggal kini abah menjalankan rutinitas mushiola seperti adzan hingga menjadi imam.uniknya karena sudah tidak bisa melihat sama sekali, posisi abah menghadap ketika sholat kerap berubah, membuat pengurus harus membuat informasi mengenai kondisi abah. bukan karena harus abah, tapi karena kondisi yang sedikit memaksa.—”kalo ngga sama abah (adzan atau imam), ngga ada (yang sholat)” cerita abah mengenai rutinitasnya di mushola.#orangbaik, #kawandwermawan mari kita isi kesendirian abah Suhro dan bersama kita bantu memberikan kehidupan yang lebih layak untuk abah Suhro memenuhi kebutuhan pokoknya untuk makan, pakaian, dan modal usaha agar ikhtiar abah lebih ringan.

Badan renta, Hidup sebatangkara, kedua matanya pun buta, mencari makan hanya dari berjualan korek.


5 tahun Lebih mata Bah Suhro (76 tahun) tak melihat terangnya cahaya matahari, gelapnya penglihatan dirasakan Abah ditengah kesendirian karena sang istri sudah lebih dahulu dipanggil yang Maha Kuasa dan tanpa dikaruniai seorangpun buah hati yang bisa menghibur abah dimasa muda dan menjaga abah dimasa tua.

—”Abah nggak punya anak, istri abah sudah meninggal duluan”.



Dimasa senjanya klini abah ditampung tinggal disebuah mushola, dengan berjualan korek dan kebutuhan sederhana lain demi menyambung hidup dengan mengasong disekitar mushola dan pengunjung warung.

—”malu dikasih trerus, minimal abah ada usaha”.



demi membalas budi baik abah bisa tinggal di tempat yang lebih layak, di mushola tempat abah tinggal kini abah menjalankan rutinitas mushiola seperti adzan hingga menjadi imam.


uniknya karena sudah tidak bisa melihat sama sekali, posisi abah menghadap ketika sholat kerap berubah, membuat pengurus harus membuat informasi mengenai kondisi abah. bukan karena harus abah, tapi karena kondisi yang sedikit memaksa.

—”kalo ngga sama abah (adzan atau imam), ngga ada (yang sholat)” cerita abah mengenai rutinitasnya di mushola.


#orangbaik, #kawandwermawan mari kita isi kesendirian abah Suhro dan bersama kita bantu memberikan kehidupan yang lebih layak untuk abah Suhro memenuhi kebutuhan pokoknya untuk makan, pakaian, dan modal usaha agar ikhtiar abah lebih ringan.