Sebatangkara Tanpa suami, tanpa kehadiran seorang anak, mak Epon Hasanah (70 Tahun) seorang diri menjadi tulang punggung untuk dirinya sendiri berjualan tisu dengan untung 1000 Rupiah hingga tidur hanya beralaskan handuk.

Lantai ubin yang dingin menusuk kulit rentanya setiap malam. Tidak ada kasur, bantal, ataupun satu pun perabotan di dalam ruangan sewa yang sempit itu. Hanya selembar handuk sebagai alas untuk merebahkan tubuhnya yang kian ringkih.

Mak Epon Hasanah harus menelan kenyataan pahit hidup sebatang kara dalam kesunyian. Sejak pernikahannya ia tak kunjung dikaruniai seorangpun anak yang bisa menghibur harinya dan menjadi sandaran diusia tuanya, bahkan hingga sang suami memutuskan untuk berpisah.
Kini hidupnya penuh kesunyian, langkah kakinya tertatih menyusuri panasnya aspal menawarkan bungkusan tisu kepada orang yang berlalu-lalang jalanan. hari-hari mak diwarnai perjuangan demi tidak terusir dari kontrakan.
Bayang-bayang diusir dan harus tidur terlunta-lunta di jalanan menjadi ketakutan terbesarnya setiap kali memejamkan mata. Uluran tangan dan kepedulian kita adalah harapan terakhir agar Nenek Epon tidak kehilangan tempat berteduh dan bisa makan dengan layak di sisa usianya.

Sering kali uang receh yang terkumpul bahkan tidak cukup untuk membeli sepiring nasi bungkus pengganjal lapar. Demi bisa terus menyambung hidup, nenek renta ini dipaksa keadaan menjadi tulang punggung bagi dirinya sendiri.
#Sahabat Baik, Mari Bantu ringankan beban Mak Epon yang hanya sebatang kara agar dapat kehidupan yang lebih layak